Jumat, 05 Juli 2024

Seyogianya Sekar (3)

Sekar masih menanak kebahagiaan, “Bahkan kalau hanya ada peluang 1% untukku bahagia, aku pasti akan bahagia!”

Omong kosong dan banal, begitu biasa aku merespons suara congornya Sekar.

Tahukah dia kalau semua orang layak tewas. Datang-datang membual, bikin ubun-ubunku panas karena menyambut semua gemah ripah loh jinawi tahi basah dari layanan bibirnya.

“Tidak bolehkah aku ceria dan menjadi naif sebentar saja?” bilangnya pakai air muka murung.

Sekar, suatu hari nanti upah minimal buruh seperti kita akan dua digit. Bayi-bayi sudah ditentukan takdirnya berdasarkan rahim siapa dia lahir.

“Kalau begitu, biarkan aku menjadi kunang-kunang,” sengit tidak mau kalah, memang begitu tabiatnya Sekar.

“Bahkan kalau selamanya malam?!” balasku, mencoba sekakmat walau hanya berbekal nonton siarannya Hikaru Nakamura.

“Aku tidak akan mendahului malam, malam bakalan tamat sebelum aku tewas.”

Ah, seyogianya Sekar, hatinya murah bahkan uang kembalian pakai tangan kanan saja mengucap maaf, kepada seorang kidal.

Sabtu, 09 Desember 2023

Kepada Puanku, Bahkan Sebubar Beberapa Windu

Kamu pernah bilang kalau rasa sayang harus dicicil. Sudahkah saat ini lunas?
Senang rasanya ikut terlibat, bahkan dalam perkara remeh tentang keseharianmu.
Tidak ada yang sepele, melihat kamu makan lahap bermodal kupon gratis saja bikin hangat.

Ini satu-satunya utang yang—menurut hematku—agak riskan untuk dituntaskan.
Jangankan remeh, informasi tak berguna saja kecil kemungkinanku lalai.
Kalau kupon gratis tidak ada, masih saja sungkan pakai uang kepunyaanku.

Sebab, kalau cicilannya lunas, apakah menjadi padu atau malah mulai biasa saja?
Aku ralat, semua ini berguna dan tidak remeh, bahkan aku ingat kentut pertamamu.
Pakai sesukanya, sebab uangku—walau terbatas—tidak mungkin habis di tanganmu.

Pencapaian kecil tanpa ngeluh karena capai, itu saja, aku tidak boleh tamak karena sudah kamu sediakan lebih dari itu.

Sabtu, 26 Maret 2022

Kita Akan Bertemu Kemarin

Maksudnya, apa? Kemarin telah berlalu dan aku sama sekali tidak bertemu denganmu.

"Kami telah bertemu besok," kata kamu seolah ingin pamer, karena tidak ada aku pada kaminya kamu.

Aku benci ketika kamu tidak melibatkanku sama sekali. Kamu begitu yakin terhadap sesuatu yang belum terjadi, kalau itu tanpa kita berdua.

Aku dan kamu yang gagal menjadi kita, seperti begitu cemen ketika kamu mendepakku melalui keterlibatan kaminya kamu.

Kamu suka mengutip kata-kata dokter gadungan, yang melarang tangisan akibat perpisahan dan lebih menyarankan untuk tersenyum karena setidaknya telah terjadi pertemuan.

Hanya butuh satu perpisahan untuk menghapus seribu pertemuan kita.

Terakhir kali kita bertemu, untuk memperingati kaminya kita. Aku berusaha melindungi diri, "Kami telah baik-baik saja."

Kami itu hanyalah aku sendiri.

Label:

Minggu, 13 Februari 2022

Ayang

Kamu datang dan aku terbata-bata sampai jadi sebuah rumah tempat kita saling kasih, "Kalau bahas zodiak lagi, aku tempeleng!"

*

Bersepeda berdua di sekeliling parit-parit air bening. Lantas dari belakang, kamu berbisik tipis, “Dunia jahat tapi kita tidak boleh.” Kita bertengkar lalu kita berbaikan, dan kubalas sambil terus mengayuh pedal, "Andaikan kentut tidak bau." Kita bertengkar.

*

Perlukah aku mempelajari genealogi orang-orang cantik, hanya untuk mencari tahu tentang kamu? Dan lagi: saranku, sebaiknya kurangi kebiasaan mengetuk-ngetuk permukaan meja lalu bilang, "Amit-amit!" Seperti yang saat ini sedang kamu lakukan.

*

Waktu itu kita berlayar ke Depok melewati sore yang sebentar lagi malam. Kamu pelan tapi tergesa-gesa ingin segera meninggalkan suasana gelap. Aku cuma mengamati punggung yang lama-lama menjauh. Dan kita berjalan dengan fase masing-masing.

*

Kalau bertemu anda, saya kikuk lantas berlari menjauh dengan egrang. Namun, saya terjatuh oleh kejauhan anda yang berbincang dengan lelaki lain.

*

Aku ingin membuat pelabuhan tempat orang-orang kangen saling bertemu.

Label:

Selasa, 01 Februari 2022

Seyogianya Sekar, "Cantik dari dalam adalah sebuah kekonyolan."

Kalau hendak membaca tugas akhir, memang seyogianya melihat halaman abstrak terlebih dahulu. Anggaplah seperti itu, beginilah kira-kira hal ini akan disuguhkan: Sekar merupakan biang perbincangan di cerita ini yang semuanya bermula pada Jiran yang mengatainya gendut. Selanjutnya, mereka berdua akan berkutat dengan dunia akhir-akhir ini, beserta kata kunci: perundungan (maya dan tubuh), bersama segala sesuatu yang berkelindan di balik semak-semak digital itu.

Selayaknya Sekar, begitu rakus terhadap dialektika, sehingga gemar nian mendamprat kedalaman berpikir seseorang yang hanya sejengkal. Seyogianya Sekar, massa tubuhnya itu layaknya fanatisme—berlebihan dan sukar ideal. Sekar dan Jiran merupakan karib sekampus dan selepas mengkhatamkan mata kuliah pada sore ini, Gedung Koentjaraningrat menjadi pelataran oranye tempat mereka berdua nongkrong.

Menanggapi perihal seminggu lalu, ketika ia dipanggil "gendut" di hadapan gawai milik Jiran, Sekar langsung saja tanpa tedeng aling-aling memulai ucapannya.

“Mereka menganggapmu melakukan body shaming!” ungkapnya ringan. 

“Merundung tubuh!” balas Jiran.

“Baiklah, baiklah, dasar anak kandung KBBI!” ucapnya meramu ejekan.

Sekar, engkau mendamprat siapa saja perempuan yang tidak menarik secara fisik, dan berkelit kalau kecantikan mereka bersemayam di hati. Dengan senyuman miring, dihardik kepercayaan itu oleh engkau karena itu semakin membuat perempuan tak kasatmata terhadap kenyataan.

Ngomong-ngomong, Sekar kerap kali berbasis diksi-diksi kepuritan, "Kalau tak cantik, akui sajalah!" ucapnya. Sebagai latar belakang, perlulah menambatkan perhatian kepada Sekar, sebagai tokoh yang tidak berparas cantik—mohon maaf, sama sekali bukan ejekan, ini mengutip dari Sekar sendiri: "Aku memang tidak cantik, tetapi bukanlah tentu aku jelek, di mana moderat-moderat itu?!" begitulah ucapnya sedari dulu.

Kalau saja ada yang menyebutnya jelek, Sekar hanya akan menanggapi dengan, "Ya… begitulah, tidak semua hal dapat diraih." Santai sekali perempuan itu. Sikapnya tidak masa bodo; tak acuh secukupnya; responsif sekadarnya; dan lebih dari itu, seyogianya Sekar, tabiatnya itu yang seperti di pantai—santai tanpa lebay.

Sekar merupakan mahasiswi tingkat tiga. Walau jiwanya itu veteran tingkat seratus. Sekar sama sekali tidak keberatan ketika dijadikan objek candaan oleh satu angkatannya berkenaan dengan massa tubuhnya itu. Menurutnya, panggilan tersebut hanyalah penyampaian fakta: “Memang aku ini gemuk, mengapa perlu ditutup-tutupi melalui perasaan tak enak hati!” Dengan itu semua, Sekar melanjutkan hidup dengan biasa-biasa saja.

Karena memikul diksi kepuritan, Sekar tidak merisaukan konotasi yang merebak pada setiap penggunaan kata. Misalnya, dewasa ini, penggunaan kata 'miskin' menjadi amat dihindari, lantas mulailah diromantisisasi menjadi 'prasejahtera'. Sekar berpendapat, kalau kenyataan perlu didekap dan dibicarakan terbuka jika ingin berdamai dengan keadaan. Oleh sebab itu, menurut Sekar, perempuan yang telah menerima keadaan dirinya yang tidak unggul dalam dimensi cantik (bukan berarti jelek!), perlulah kiranya untuk mengembangkan hal lain yang masih dapat dipoles.

*

Jiran merupakan delima ranum yang diperebutkan lelaki, melalui parasnya. Oleh karena itu, perempuan yang—oleh Sekar—dikultuskan sebagai anak kandung KBBI tersebut, memiliki cukup banyak penggemar maya. Selain itu, dapatlah dikatakan kalau Jiran adalah pencinta bahasa Indonesia poros ekstrem.

Kalau Gedung Koentjaraningrat minggu depan beraroma oranye, lain di hari ini yang pelatarannya cukup pekat. Namun, apa pun warna yang ditampilkan pada bangunan kampus itu, mereka berdua tetap nongkrong seperti biasanya.

Sebelum berucap, Sekar melongo dengan gemilang ketika dilihatnya media sosial milik Jiran, “Banyak sekali followers-nya!”

“Pengikut!” pungkas Jiran. “Baiklah!”

Lantas, Jiran mengambil beberapa swafoto dan berjeda sebentar untuk memastikan wajahnya. Selagi memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu, Sekar mengambil ancang-ancang lalu berucap, “Kalau kamu ingin bertanya apakah pipimu bulat, atau alismu menghilang, mending kuhardik saja agar lebih pantas, ketimbang menulis itu sebagai caption!”

“Takarir!” pungkas Jiran mencoba membetulkan.

“Hah?!”

“Pengganti kata ‘caption’!”

“Luar biasa!!”

Selama bertahun-tahun berkawan baik, Jiran tahu pasti bahwa Sekar adalah perempuan yang telah mempan terhadap komentar fisik. Ketika semua perempuan mengatakan tentang inner beauty, yang kemudian akan dikoreksi oleh Jiran menjadi, “Kecantikan dari dalam!” Namun, Sekar takkan berkoar perihal kecantikan yang dari dalam. Perempuan itu, tak pernah

setuju kalau ada kecantikan dari dalam. Menurut otaknya itu, ada dimensi yang berbeda di antara baik hati dan cantik. Beginilah kalau jadi orang puritan.

"Cantik dari dalam? Kenapa gemar sekali menciptakan kekonyolan. Temanku yang gendut-gendut itu—sama seperti aku… janganlah cepat tersinggung! Orang gendut dan tersinggung adalah dua kombinasi paling menyusahkan—amat sulit gencatan senjata terhadap dirinya, terus saja menyangkal kenyataan!" begitu ungkap Sekar.

“Jadi, bagaimana menurutmu sebagai orang yang gendut?” tanya Jiran dengan gawai yang telah tersambung dengan media sosialnya.

“Ya sudah. Bagiku tubuhku, bagimu tubuhmu!” ucapnya di depan lensa kamera. “Tetapi, apakah tubuh sesakral itu untuk mengubah diksi ‘agama’?”

“Luar biasa!!”

*

Menurut pengakuan Sekar, selama otaknya masih berfungsi dengan baik, ia takkan repot-repot dengan kodrat biologisnya. Namun, profil Sekar sangatlah membumi. Meski berbobot tak ideal, Sekar tak pernah merasa perlu menampilkan apa pun untuk khalayak—demi menutupi kekurangannya, yang secara harfiah adalah kelebihan. Jadi, meski tubuhnya tidak ideal, kepercayaan diri milik Sekarlah yang ideal—memang mustahil untuk ideal pada setiap aspek. Dan hal ini, seyogianya Sekar dan segenap perempuan yang sefrekuensi dengannya, perlu diraih erat-erat.

Di salah satu vlog miliknya, Jiran memanggil Sekar dengan sebutan ‘gendut’ atau kalau sedang ingin imut menjadi ‘ndut!’. Secara kasatmata, kelakuan Jiran terlihat seperti orang kaya yang sedang memanggil orang miskin dengan ‘miskin’ atau kalau sedang ingin kasar menjadi ‘dasar miskin!’. Dewasa ini, kecemburuan sosial bersaing pamornya dengan kecemburuan biologis; banyak penonton yang mencercanya akibat hal tersebut.

Pesan-pesan digital menjadi hilir mudik bertamu di gawai milik Jiran. Perempuan itu, menjadi sasaran paling strategis untuk sebuah kecemburuan biologis yang telah lama dipendam oleh orang-orang yang mudah tersinggung oleh sentimen kecantikan.

Jiran merasa terpukul bertubi-tubi, dan cukup menyakitkan ketika melihat setiap komentar yang muncul pada kanal-kanal media sosial miliknya, hanyalah ujaran kebencian yang saling dukung.

Beramai-ramai, Jiran diserang oleh warganet dari berbagai sisi. Kalau melihat Tugas Akhir, dapat terlihat di bab terakhir terdapat kesimpulan dari tulisan ilmiah itu. Anggaplah demikian, beginilah kira-kira kesimpulan dari komentar-komentar warganet kepada Jiran yang dapat dirangkum padu: “Dengerin, Mbak! Orang tuanya ngedidik gak?! Kok akhlaknya kayak kabur gitu, seenaknya ngatain perempuan ‘gendut’, mentang-mentang situ cantik, gitu?! Kalau gue ketemu elo di jalan, gue cakar juga muka elo itu, ngerti?! Dasar sundal!!

Seharian itu, Jiran menjadi amat kelabu. Di sore hari pada pelataran kampus yang pekat, Jiran mengelilingi trotoar kampus dengan berjalan kaki, dan membenamkan benaknya terhadap apa yang menimpa dirinya itu. Setidaknya, hanya dengan memanggil Sekar ‘gendut’, ada empat hasil yang didapat olehnya: 1) orang tuanya dipertanyakan kemampuan mengurus anak; 2) kepribadiannya direndahkan; 3) menerima ancaman akan disakiti; dan terakhir 4) dirundung dengan panggilan tak seyogianya.

*

“Itulah mengapa, di setiap kontes kecantikan, pastilah ada poin penilaian dari wawasan masing-masing kontestan,” ucap Sekar beserta pelataran gedung yang makin oranye.

Itu bukan lembayung, tetapi cukup cantik untuk ukuran langit Depok. Jiran melanjutkan obrolan itu, yang sebelumnya masih merasa terusik dengan setiap pesan cemooh yang masuk di media sosialnya.

“Kecantikan perempuan, mana mungkin dapat dipilih salah satu menjadi yang terbaik? Oleh karena itu, dewan juri pasti mencari-cari indikator lain supaya upaya mencari pemenang menjadi tidak terlampau mustahil,” ucap Sekar lagi.

“Tetapi, tetap saja itu namanya kontes perempuan unggul, bukan hanya kecantikan,” ucap Jiran menanggapi sahabatnya.

“Sebenarnya, mudah saja untuk mengukur apakah perempuan sudah berdamai dengan dirinya, ataukah belum. Silakan saja mengamati media sosial perempuan-perempuan yang parasnya cantik, atau menonton kontes kecantikan sampai khatam.”

Kalau ada satu hal yang dapat disetujui bersama oleh kedua sahabat itu, adalah mengenai kontes kecantikan yang semakin mempromosikan standar kecantikan yang diimpi-impikan oleh segenap perempuan. Seyogianya, standar kecantikan itu fana. Namun, kedua perempuan itu barangkali akan didebat habis-habisan terhadap opininya.

“Dan media sosial, semakin membuat perempuan menjadi insecure terhadap tubuhnya,” ungkap Sekar.

“Haloo… Jiran?!” ucap Sekar lagi, mencoba memastikan sahabatnya.

“Apa?”

Insecure?!”

“Oh, ya… aku belum menemukan padanan kata yang paling tepat.’ “Baiklah, statusmu sekarang turun kelas, menjadi anak tiri KBBI.” “Ha-ha, baiklah, lanjutkan omonganmu.”

“Dunia yang dewasa ini dihilangkan batas-batasnya oleh internet, membikin orang-orang jelek dan orang-orang cantik berada pada satu wadah. Dan, mempertemukan keadaan kontras inilah yang memicu konflik digital,” ucap Sekar berpanjang lebar.

“Oleh karena itu, kamu memilih menjadi seorang moderat di setiap spektrum isu, benar begitu?”

“Iya, karena kalau poros ekstrim, akan memicu keributan.”

“Ekstrem!”

“Luar biasaaa!!”

“Bukankah tidak ada perempuan yang jelek, semua perempuan itu cantik?” ucap Sekar mencoba menggoda sahabatnya itu.

“Ha-ha! Sebagai anak kandung KBBI, apa artinya ‘jelek’ itu?”

“Aku kembali naik kelas?”

“Iya!”

“Jelek artinya: ‘tidak enak dipandang mata’,” balas Jiran.

“Menurutmu, semua perempuan ‘enak dipandang mata’?” tanya Sekar.

Jiran diam saja, tidak menjawab sama sekali. Untuk hal ini, mereka sepakat untuk tidak sepakat. Berkawan memang tidak melulu harus satu suara. Dan kedewasaan untuk menerima pendapat yang berbeda, amat sulit untuk warga-warga di internet. Berkenaan dengan itu semua, Sekar melanjutkan bicaranya.

“Mereka masih menghardikmu?” tanyanya.

“Iya, karena aku melakukan body shaming,” ucapnya seraya memperagakan simbol ‘tanda kutip’ untuk dua kata terakhir yang dia ucapkan.

“Ha-ha, apakah itu sebuah kompromi?” tanya Sekar berkenaan dengan penggunaan dua kata asing itu oleh anak kandung KBBI.

“Betul,” pungkas Jiran beserta senyumnya.

Lalu, Sekar dan Jiran membuat vlog bersama dan mulailah perempuan tersebut menjelaskan sikapnya terhadap Jiran yang memanggilnya ‘gendut’ pada tempo lalu. Di hadapan sepucuk kamera milik Jiran, mulailah Sekar mengeluarkan kata-katanya:

“Halo, perkenalkan, namaku Sekar, sahabat dari orang ini,” ucap Sekar yang telunjuknya mengarah ke Jiran, “di dunia ini, pada era yang hampir menghilang batas-batas riil dan maya, sepatutnya kalian (warganet) mengerti kalau aku biasa saja dipanggil ‘gendut’, sehingga yang dilakukan Jiran kepadaku bukanlah body shaming. Mengenai ketersinggungan kalian terhadap kelakuan Jiran, aku iba sekali karena kalian belum berdamai dengan itu semua dan melesatkan kebencian kepadanya. Kalau tidak cantik seperti Jiran, biasakanlah!”



Label:

Minggu, 30 Januari 2022

Ada Banyak Sekali, tetapi Tidak Satu pun

Sejak usia empat belas, aku sudah meninggalkan rumah. Beliau pernah bilang, "Pergilah, anak bujang! Tak jemukah kau, menumpang bermain Harvest Moon dan berulang kali menikahi Karen?!"

Semenjak itu, rumah bagiku adalah seperangkat sandang dan koper.

Di suatu malam, tetangga indekosku muntah-muntah pecel lele, akibat terlalu bersemangat mengisap lem aibon.

Di suatu sore yang lesu, aku diberikan sebuah matoa manis. Manis, selain untuk buah-buahan, dapat pula wajah seseorang.

Kawanku pernah bilang, "Petugas sekolah yang tempo hari bersepeda, telah gantung diri. Arwahnya gentayangan tiap malam sambil berkata, 'Naikkan upahku! Naikkah upahku?'"

Kalau sedang menangis, tampunglah air matamu sehingga bunga hyacinth dapat tumbuh dan mekar. Ini hanya dapat dilakukan kalau telaten dan menangis terbahak-bahak.

Di Selat Sunda, di atas kapal feri tempat biduan-biduan berdansa koplo, aku bertemu seorang bapak tua dengan air muka sedu berkata, "Ada banyak sekali penumpang di kapal ini, tetapi tidak satu pun yang kukenal."

Label:

Jumat, 31 Desember 2021

Seyogianya Sekar (2)

 "Perempuan itu hanya mengenakan bawahan sepanjang beberapa senti dari vaginanya!" hampir-hampir Sekar tersedak oleh perkataannya sendiri.

Selayaknya Sekar, hujan tak ada, angin tak hadir, tetapi disuguhkan kepadaku sebaris omongan yang membikin satu ruangan meletakkan perhatiannya kepada kami berdua.

"Wow, wow, tenang. Jangan menggunakan topi sombrero di sini!" balasku. Tidakkah Sekar sadar kalau beruang laut akan hadir melalui tatapan para pengunjung kafe.

"Aku tidak membawa klarinet!" dilemparkan kembali ucapanku.

Apa yang dialami Sekar, menurut google translate, adalah gegar budaya. Istilah ini tentu tidak sopan, karena berdasarkan sinema elektronik, gegar otak adalah istilah paling frekuen digunakan dalam membumbui cerita. Aku curiga kalau Sekar mendalami dua gegar sekaligus.

"Nyaliku berbanding lurus dengan bawahan yang kupakai, semakin pendek, bakal semakin rendah," kata Sekar.

"Berbanding lurus?" tanyaku.

"Iya!"

"Nyalimu pendek atau rendah?"

"Boleh keduanya."

"Tekanan darah pendek?"

"Hmm..."

"Bawahan tinggi atau panjang?"

"Panjang!"

"Anak pandai!"

Seyogianya Sekar, seorang karyawati dengan lutut yang tak pernah mendahului bawahan. Lain waktu bakal kuceritakan perihal Sekar, perempuan yang cita-citanya adalah menanak kebahagiaan. 

(Bersambung kalau Sekar berkenan)

Label: ,

Jumat, 10 Desember 2021

Bolehkah aku bermain layang-layang, lantas sumur-sumur di ladang selalu tersedia untuk aku dan orang-orang yang aku kasihi?

Dahulu, aku suka melakukan semacam pertemuan-pertemuan kecil dengan kawan-kawan masa kecil di sebuah sumur pinggir ladang milik seseorang yang sampai saat ini entah siapa.

(Oh, ya, sebelum aku melantur terlalu jauh akibat ketololan dalam merangkai kata-kata, perlu kiranya aku sampaikan bahwasanya tulisan ini dibuat dalam rangka merekam ingatan. Oleh karenanya, anggap saja jari-jari ini berbicara tanpa terlalu mengindahkan ketepatan berpikir dan amburadulnya kata-kata adalah klise yang berputar pada porosnya dan aku merasa hal ini dapat langsung kupraktikkan di sini melalui kehadiran Nicholas Cage yang ke sana ke mari mencari sesuatu yang bukan alamat, tetapi harta karun nasional dan Max Weber menggagalkan usahanya dengan sesuatu yang bernama iron cage karena lelaki yang aktor itu terkurung di dalamnya bersama kera sakti yang juga mencari kitab suci di gunung myoboku. Sekian ketololan kupersembahkan, lanjut.)

Walaupun sumur dekat ladang itu tidak digunakan untuk menumpang mandi, tetapi kami semua dapat berjumpa kembali karena bermain layang-layang sungguh asyik, sebab angin-angin di area itu adalah gula-gula yang menggait kami semua, semut-semut kecil pengitar gula-gula manis yang membikin angin mengelilingi kami semua, seperti ingin menyantap gula.

Aku tahu, setelah usiaku hampir seperempat abad, kehadiran gula tak selalu kehadiran semut, dan kalau ada sumur di ladang, tak selalu dapat ditumpangi mandi, sehingga kalau ada umur panjang, tak lantas dipergunakan untuk berjumpa kembali.

Namun, sumur tak harus ada di ladang, sumur dapat saja tersedia di sebuah vila kawasan Sentul, dan kami semua adalah semut-semut yang bermain layang-layang akibat angin dan ide-ide dasar mengenai gula yang membikin kami bergerombol mendiskusikan sesuatu yang begitu lekat, yaitu kepayahan-kepayahan hidup yang secara mengagumkannya begitu brengsek.

Meskipun seekor semut, kami mampu berdansa lewat permainan layang-layang. Gerak ke kiri, mengenai kebebasan, gerak ke kanan, perihal apa-apa yang tidak bebas. Aku memantau dari tengah, kawan-kawanku yang lebih gemar berdansa ke kiri, selagi memperhatikan kawan-kawanku yang berdansa di kanan.

Tidak semuanya dapat berdansa dengan mengagumkan. Aku sendiri payah dalam berdansa sambil bermain layang-layang. Namun, berdansa sudah merupakan kemewahan. Hanya saja, akan sangat melegakan kalau pedansa-pedansa dari kiri dan kanan dapat saling terhibur dengan dansa yang masing-masing tampilkan. Kalau pun tidak terhibur, setidaknya menghargai tarian-tarian itu sebagai keberagaman tanpa saling sinis atau mengejek.

"Wah, tarian apa itu? Dapatkah sekali lagi ditampilkan padaku karena itu begitu memesona?"

Melalui pertemuan-pertemuan kecil, mungkin hidup sepadan untuk dijalani. 

Selain itu, kawan tak perlu berwujud seseorang beserta atribut-atribut detail tentangnya, yaitu nama, bentuk fisik, dan lain sebagainya. Kawan adalah gula-gula yang membikin semut bergerombol dan dapat saling bertemu serta berdansa. Kawan tak harus seekor semut, kawan dapat saja setumpuk gula yang dinikmati melalui ejawantahnya, dapat saja berbentuk kepayahan-kepayahan hidup yang saling diutarakan.

Hari ini kita pergi, sembari menunggu sumur tempat mampir sejenak lalu berpulang ketempat masing-masing lagi.

Minggu, 05 Desember 2021

Kilat Akan Selalu Mendahului Gemuruh

Waktu itu langit adalah orkestra petasan penuh cekcok. Siapa pun yang jemurannya belum diangkat, kuucapkan turut berduka cita.

“Tidak ada kunang-kunang di Manhattan,“ begitu kata congormu kalau sudah lelah dengan langit-langit Depok.

“Olenka mungkin bakal berasa lebih memuaskan,” begitu saja kubalas.

Kamu tersenyum, aku buyar tak terperikan. Belum ada orang yang terpukau selama satu dasawarsa, hanya aku kalau bersama kamu.

Kami membicarakan gerak-gerik belalang sembah, seekor kucing yang tidak bertanggung jawab terhadap tahinya, sampai kematian Jeon Mi-Seon di langit-langit kamarnya.

“Kita ini gemuruh,” katanya sambil mengelus buku Umar Kayam, “takkan dapat mendahului kilat.”

Untuk seseorang yang mempermasalahkan pada situasi seperti apa ‘telinga’ dan ‘kuping’ seharusnya digunakan, omongan ini cukup menggelikan kalau keluar dari mulutnya. Oleh karena itu, ingin rasanya menempeleng kepalanya dengan lemah lembut.

“Wah, bacotmu keren sekali!” balasku.

Dan satu dasawarsa dilanjutkan melalui Wuthering Heights sampai Weathering Bersama Kamu. Kita hanya berisik, tidak menyilaukan sama sekali, tetapi itu sudah lebih dari cukup karena gemuruh kita berdua sehebat langit-langit Depok. Marilah mengangkat jemuran kalau kami berdua sudah bertemu.

Label:

Sabtu, 27 November 2021

Ode to the peculiar (1)

Siapa sebenarnya perempuan yang terseret truk di jalan depan pekarangan rumahku? Waktu itu aku sedang bermain-main dengan balon tiup yang sedotannya kuning-kecil. Rambutnya kental darah, tetapi sepertinya masih hidup. Padat serupa rambut Popuri, tetapi merah kehitaman. Usiaku lima tahun dan ini adalah tontonan yang asyik kala itu. Padahal aku akan menonton Joshua oh Joshua, lalu Mr. Bean, dan iseng-iseng berhadiah kutemukan sebuah kaset video rekaman seekor buaya yang dibelah isi perutnya dan ditemukan jasad seseorang di dalamnya. Kalau sudah asyik menyimak tontonan, aku tidak sadar kalau seekor musang sedang menyantap ayam kampung di belakang rumah. Sekali waktu, ayam itu tinggal sayapnya saja. Di belakang rumah ada dataran terjal, dan kalau digali-gali tanahnya, akan ditemukan selongsong peluru kusam yang entah sudah menembus berapa tubuh. Dari arah dataran terjal, ada babi hutan soliter yang sekali waktu bertamu ke rumahku–tentu saja diusir sebelum disajikan teh kepadanya.

Label:

Rabu, 03 November 2021

Nakya (3)

Waktu itu kita berlabuh ke stasiun dekat kampus, dan rambutmu diikat dengan dua karet gelang. “Apakah rambut itu menjadi pelengkap ketoprak dan rasanya pedas?” begitu aku bertanya kepada diri sendiri. Kamu, melalui lekuk bibir yang seperti Mona Lisa, seakan-akan berusaha membalas pertanyaanku, “Kamu salah, kalau pedas, bungkusnya tidak harus berkaret dua, kadang dirobek sedikit oleh penjualnya.”

Kalau sedang di warkop, nyamuk-nyamuk suka berbisik kepadaku dan Nakya, “Hei, pemuda-pemudi tolol, kalian kira asap rokok itu dapat mengusir kami?!” Aku menangkap kesan kalau Nakya berusaha menjelaskan kepada nyamuk-nyamuk itu, “Maaf, tidak ada darah untuk kalian hari ini.” Aku harus berhati-hati terhadap kebiasaan lama Nakya yang suka menggores permukaan kulitnya dengan pisau dapur. Sekali waktu, satu tutup botol pernah diisinya oleh darah dan begitu menakjubkan upaya untuk memberi makan nyamuk-nyamuk di dalam kamarnya.

Nakya seperti daerah pelosok yang baru saja kebagian listrik, terang… terang… jadi tidak ada lagi kelakuannya yang aneh-aneh kalau terang. Kalau ada kecoa terbang di kamar, Nakya akan menangkapnya tanpa ragu-ragu. Kalau sedang iseng, pernah kecoa itu dibawanya ke kampus dan dihadiahkan kepadaku.

“Kecoa adalah hadiah paling istimewa untuk orang-orang kabisat!” ucap Nakya dengan keceriaan tak terkalahkan. Kalau harga yang harus dibayar untuk kebahagiaan Nakya adalah menerima hadiah itu dengan tanganku, sepertinya ini terlalu murah.

Label: ,